UNIKAMA – Sebanyak 71 mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) mengikuti yudisium di Auditorium, kemarin. Dengan rincian, mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris 32, dan 39 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Siti Nur Aisyah A. Paokuma Pendidikan Bahasa Inggris berhasil meraih IPK tertinggi, 3.90. Disusul Neria Omega Putri dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3.60.
Dekan FBS Unikama Dr. Mujiono, S.Pd, M.Pd, mengatakan, di FBS tenaga pengajarnya hampir 75 persen dari tenaga pendidkan, bahkan dari program studi tertentu hampir 90 persen dan memiliki sertifikasi dosen sebagai tenaga pendidik profesional. Untuk mendukung SDM di FBS saat ini empat dosen sedang menempuh S3 dan dua menempuh S3 di Australi, semua itu beasiswa.
“Kita terus mengedepankan akademik, meskipun ada yang lulus tidak tepat waktu. Namun dengan yudisium ini menunjukkan kalian telah syah menerima gelar baru. Hal ini juga menunjukkan kepada orangtua bahwa selama menimba ilmu di Unikama telah selesai dengan lulus,” ucap dekan.
Ditambahkan, setelah lulus S1 bisa melanjutkan studi selanjutnya yaitu Pascasarjana (S2) baik diluar ataupun di Unikama. Saat ini Unikama sudah memiliki tiga program magister, Magister IPS, Magister Manejemen, dan Magister Pendidikan Bahasa Inggris. 
Mujiono berharap, kepada para alumni agar ilmu yang telah didapat selama kuliah bisa diterapkan, baik dari hard skill, soft skill, karakter, dan religius. Bahkan di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini, para lulusan harus bisa menguasai bahasa dan teknologi informasi, sehingga bisa bersaing baik di kancah nasional dan internasional.
Sementara itu, Siti Nur Aisyah A. Paokuma yudisium terbaik menyampaikan ucapan terimakasih kepada pimpinanan FBS, seluruh dosen yang telah mendidiknya. Sudah merasakan selama menempuh ilmu di Unikama banyak dibekali dengan ilmu keterampilan dan siap ditularkan di masyarakat. 
“Terima kasih kepada pimpinan FBS, bapak dekan, pimpinan program studi dan semua dosen yang tulus membimbing kami. Banyak memberi ilmu dan pengalaman kepada kami. Sampai kapanpun, ilmu, kenangan yang telah diberikan akan selalu membekas dinaluri kami. Tanpa bimbingan Bapak dan Ibu dosen, tanpa kesabaran dan ketelatenan membimbing kami, maka skripsi kami hanya tumpukan kertas yang tidak berarti ,” ujarnya.
Jadikan predikat kelulusan ini sebagai kebanggaan orang tua yang telah memenuhi kebutuhan selama belajar di kampus. ‘Berhenti menjadi pengecut, berhenti menjadi penakut, setiap orang punya catatan gagal, tapi menyerah bukan pilihannya,’ ungkapnya. (dinog)

Tanpa Kesabaran, Skripsi Hanya Tumpukan Kertas